Minggu, 22 April 2012

IMAN YANG MENGATASI HAMBATAN

Pendahuluan.
Keluarga Kristen merupakan persekutuan yang hadir di tengah realitas dan berinteraksi dengan seluruh kenyataan di sekitarnya. Hal ini menempatkan keluarga Kristen selalu diperhadapkan dengan tantangan yang tidak terhindarkan.
Pernikahan yang merupakan awal terbentuknya keluarga dengan pemberkatan di Gereja sehingga pasti luput dari tantangan merupakan mitos yang merusak.
Maka keluarga Kristen yang mengusung kemauan kuat untuk selalu BERARTI, senantiasa berjumpa dengan perubahan ( changing ) dan tantangan ( challenging ).
Paper ini hendak mengetengahkan pentingnya relasi yang kokoh disemua anggota keluarga dan secara khusus suami – istri dalam kerangka menghadapi Perubahan dan Tantangan yang perlu mendapat perhatian serius. Alasannya karena keluarga yang mengabaikan Perubahan dan Tantangan akan menjadi keluarga yang kehilangan tujuan utama
terbentuknya keluarga dan tumpul dalam mengekspresikan panggilan dan pengutusan.
Bandingkan dengan pernyataan Firman Tuhan di 1 Petrus 2 : 9 demikian :
Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:
Menjadi umat pilihan Allah berdasarkan inisiatif dan prakarsa Allah perlu ditampilkan dalam kehidupan setiap hari, juga melalui keluarga. Melalui gagasan demikian maka eksistensi keluarga selalu dipengaruhi dengan mandat utama untuk memberitakan perbuatan Allah yang besar (to make known by praising or proclaiming, to celebrate)
Keluarga yang dibentuk oleh Allah adalah keluarga yang terdiri atas pribadi-pribadi yang dikasihi Allah ( obyek ) dan mengasihi ( subyek ) sebab pada dasarnya hakekat Allah adalah Kasih ( 1 Yoh. 4 : 8 ). Maka relasi dalam keluarga yang dibingkai oleh kasih Allah adalah relasi yang mengalami pembaruan Roh Kudus dan berujung pada tugas utama manusia mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Dari sudut pandang inilah sebuah perubahan dan tantangan dihadapi. Dosa sebagai bentuk pemberontakan manusia terhadap Allah menempatkan manusia pada posisi :

Terbatas.
Tercemar.
Terbuang.


Posisi inilah yang kemudian mengkristal dalam dalam keluarga sehingga memerlukan keterlibatan Allah untuk memulihkan dan memerdekakan.
Iman kepada Yesus Kristus merupakan landasan kokoh yang memberi pengaruh kepada keluarga. Hal ini dimaksudkan sebagai sebuah penghayatan bahwa keluarga yang terbentuk dari sebuah pernikahan merupakan bagian dari rencana dan kehendak Allah. Suami – istri yang mengimani persekutuan mereka dalam perspektif rencana dan karya Allah merupakan pasangan saling melengkapi seperti dikehendaki Allah (Kejadian 1 : 26 – 28).
Perhatikan ayat 28, adakah penugasan setelah diberkati ?
Berapa usia pernikahan ? -----------------
Apakah yang dikuasai ? ………………….

A. Pernikahan Kristen.
Norman Wright mengemukakan bahwa pernikahan Kristen adalah persekutuan suami-istri yang mengalami pertumbuhan dan berkembang dalam suasana belajar berdasarkan komitmen total kepada Yesus Kritus dan sesama. Dalam konteks ini pernikahan bukan tindakan spekulasi atau improvisasi dalam kehidupan. Pernikahan adalah bersatunya suami – istri dalam hubungan perjanjian dengan Allah. Gagasan tentang hubungan keluarga Kristen dan perjanjian Allah bertolak dari pemahaman bahwa Allah adalah Allah perjanjian dan umat adalah umat perjanjian. ( Ulangan 7 : 9 ). Dalam relasi yang demikian maka keduanya terikat dalam suatu perjanjian yang memunculkan sikap menopang dan tidak mendominasi. Hal penting yang nampak dari perjanjian ini ialah bahwa Allah mengambil inisiatif dalam perjanjian ( Kej. 6 : 18, Kel 6 : 4 – 5 ), Allah menugaskan untuk memegang teguh perjanjian ( Ul. 7 : 9, 12 ; I Raja 8 : 23 ), perjanjian itu mencakup setiap generasi dan perjanjian itu diwarnai pengorbanan sebagai tanda. Suami – istri dalam perjanjian Allah senantiasa mengarah kemasa depan. Dalam relasi demikian maka perjanjian bukanlah sebuah hukum yang bersifat menekan melainkan kesepakatan yang diterima dengan suakcita. Relasi dalam kelurga bukanlah relasi atasan –bawahan tetapi sebuah persekutuan yang diwarnai ketaatan. Maleakhi 2 : 10 – 16 dapat mejadi contoh tentang bagaimana perjanjian harus tetap terjaga ( Gushee : 2009 ).
Dalam konteks ini maka Iman selalu mengarah kepada pesan injil secara total tentang karya Allah dan hubungan-Nya dengan manusia.(1 Kor. 16:13 , Kol. 2:7 , 1 Tim.3:9, 5:8, Ibr. 4:14, Yud. 3 ). Maka orang beriman adalah :
• SEORANG YANG MEMBERI TANGGAPAN TERHADAP KARYA ALLAH DIDALAM YESUS KRISTUS.
• SEORANG YANG MENYERAHKAN DIRI SECARA UTUH KEPADA YESUS KRISTUS SEBAGAI HASIL KARYA ROH KUDUS.
Pernikahan yang dibangun dengan pondasi Iman dan menghayati hubungan perjanjian dengan Allah merupakan pernikahan yang berkualitas sekalipun diperhadkan dengan perubahan dan tantangan. Kualitas pernikahan ini semakin terbentuk melalui perubahan dan tantangan yang terjadi.



A. Perubahan dan Tantangan Bagi Pernikahan.
Setiap pernikahan pasti membawa perubahan bagi suami – istri. Perubahan sebagai bagian dari kehidupan pernikahan memerlukan perhatian yang serius. Kenapa ? sebab mengabaikan terjadinya perubahan serta mengabaikan tantangan akan berujung pada tumpulnya kehadiran sebagai keluarga Kristen.
Perubahan dalam pernikahan , pertama – tama dialami oleh suami – istri.
1. Saya – Kita. Artinya dalam keluarga tidak lagi dipercakapkan kepentingan saya tetapi kita. Pernikahan secara mendasar tidak lagi mementingkan diri sendiri.
2. Terikat dalam lembaga keluarga sebagai sebuah keputusan yang Merdeka.
3. Relasi dengan pasangan menjadi relasi yang saling mempengaruhi.
Pertanyaan reflektif


Menurut saudara adakah perubahan ?
Apakah perubahan positif atau negative ?
Disisi lain tantangan bagi keluarga secara mendasar adalah :
1. Anonimitas – tidak ada nama sehingga tidak dikenal. Keluarga anonym adalah keluarga yang tidak saling mengenal sekalipun tinggal ditempat yang sama.
2. Mobilitas – dalam arus pergerakan yang berlangsung cepat maka jejak yang ditinggalkan adalah hilangnya ‘ dialog pribadi ‘.

Namun tantangan yang serius ialah :
- Konkretisme
- ‘ Rubber Neck ‘
- Hilangnya Selebrasi





A. Iman Yang mengatasi Hambatan.
Dalam kunjungan Yesus di Kapernaum banyak orang berkumpul untuk mendengarkan Yesus mengajar. Kumpulan itu demikian banyak sehingga tidak ada tempat ketika Firman diberitakan ( Mark. 2 : 2 ). Di rumah itu tejadi perkumpulan dengan Firman Tuhan diberitakan Yesus.
1. Firman Tuhan berada ditempat utama. Semua pribadi yang berkerumun di sekitar Firman Tuhan mengalami pengajaran yang memerdekakan ( ..pulanglah ke rumahmu – ayat 11 ).
2. Firman yang Tuhan yang menjadi pusat sehingga ada dorongan untuk berjumpa dengan Yesus ( ayat 4 ).
3. Firman Tuhan yang menjadi pusat sehingga dapat dilihat mujisat penyembuhan ( ayat 12 – yang begini belum pernah kita lihat ).
4. Firman Tuhan yang menjadi perekat relasi persahabatan ( ayat 3 – 4 )
Perubahan dan Tantangan dalam perspektif Markus 2 : 1 – 12 memberi penjelasan bahwa RUMAH adalah wilayah dimana Kabar Sukacita dinyatakan.
Perhatikan ayat – ayat ini :
1. Lukas 10 : 5 - Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini.
2. Yohanes 20 : 10 – lalu pulanglah kedua murid itu kerumah.
3. Lukas 19 : 5 - Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."
( contoh dari 2794 ayat tentang Rumah ).
Pertanyaan Reflektif .
- Siapa dan Apa yang berkuasa di rumah ?
- Adakah persekutuan disekitar Firman Tuhan di rumah ?

MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERIH LELAH TIDAK SIA-SIA.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar